Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Aplikasi Citra Beresolusi Tinggi (Quickbird) Dalam Pemetaan Mangrove

Aplikasi Citra Beresolusi Tinggi (Quickbird) Dalam Pemetaan Mangrove

Satelit QuickBird diluncurkan pada Bulan Oktober 2001. Satelit ini merupakan salah satu satelit tercanggih, terbaru dan terbaik karena resolusi spasialnya yang sangat tinggi, dan datanya sudah bisa didapatkan di pasaran secara komersial. Satelit ini mempunyai berat 2100 pounds dan panjang 3,04 m.


Satelit QuickBird memiliki dua macam sensor yaitu sensor panchromatic (hitam dan putih) dengan resolusi spasial 0,6 m dan sensor multispectral (berwarna) dengan resolusi spasial 2,44 m. Tingginya resolusi spasial pada citra ini memberikan keuntungan untuk berbagai aplikasi, terutama yang membutuhkan ketelitian yang tinggi pada skala area yang kecil. Contohnya adalah pemetaan secara detail dan perencanaan tata kota. 

Satelit ini mempunyai orbit polar sunsynchronus, yaitu orbitnya akan melewati tempat-tempat yang terletak pada lintang yang sama dan dalam waktu lokal yang sama pula. Satelit QuickBird melewati tempat yang sama untuk satu putaran kira-kira 1-3 hari, ini merupakan kemajuan yang sangat hebat dibandingkan berbagai satelit yang diluncurkan tahun 1980-an dan 1990-an. 

Periode orbit dari satelit ini adalah 93,4 menit dengan sudut inklinasi 98ketinggiannya 450 km di atas permukaan bumi. Minimum area yang terliput oleh citra satelit QuickBird adalah 8 x 8 km. Karakteristik QuickBird akan di berikan pada Tabel. 


Karakteristik tiap kanal (spektrum energi) adalah sebagai berikut : 
a. Kanal 1, Spektrum Biru Baik untuk pemetaan perairan pantai karena penetrasinya dalam kolom air cukup tinggi. Sangat kuat diabsorpsi oleh klorofil sehingga berguna untuk membedakan tanah dan vegetasi.
b. Kanal 2, Spektrim Hijau Digunakan untuk mengukur pantulan warna hijau dari puncuk vegetasi untuk mengetahui seberapa sehat vegetasi tersebut dan menguji daya tegak vegetasi. Juga untuk identifikasi kenampakan kultur. 
c. Kanal 3, Spektrum Merah Energi pada spektrum ini sangat kuat diserap oleh klorofil sehingga membantu perbedaan spesies tanaman. Diserap oleh banyak vegetasi. 
d. Kanal 4. Spektrum Inframerah Dekat Energi pada saluran ini diserap seluruhnya oleh air, sehingga berguna untuk mengidentifikasi badan atau kolom air. Dipantulkan seluruhnya oleh vegetasi, sehingga berguna untuk menentukan tipe vegetasi, daya tegak, dan kandungan biomassanya. Menghasilkan kontras yang nyata antara darat dan air. 

Salah satu kelebihan citra satelit QuickBird adalah resolusi spasialnya yang sangat tinggi, yaitu 2,44 m x 2,44 m. Dengan resolusi tersebut satelit ini mampu membedakan jenis-jenis mangrove.

Pengaruh Climate Change Terhadap Tumbuhan Laut (Lamun)

Pengaruh Climate Change Terhadap Tumbuhan Laut (Lamun)

A. Perubahan Iklim
Perubahan iklim adalah perubahan variabel iklim, khususnya suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu yang panjang antara 50 sampai 100 tahun (inter centenial). Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang iklim dalam jangka waktu berdekade ke jutaan tahun. Perubahan iklim bisa menunjukkan perubahan dalam rata-rata kondisi iklim, dapat mennyebabkan perubahan iklim yang berkondisi ekstrim, atau setiap bagian dalam iklim. Perubahan iklim bisa terjadi pada wilayah tertentu, atau seluruh bumi. Perubahan-perubahan ini bisa bersumber dari proses-proses dinamis di Bumi, daya-daya eksternal termasuk kelainan pada panas matahari, dan baru-baru ini juga, kegiatan manusia. 

Disamping itu harus dipahami bahwa perubahan tersebut disebabkan oleh kegiatan manusia (anthropogenic), khususnya yang berkaitan dengan pemakaian bahan bakar fosil dan alih-guna lahan. Jadi perubahan yang disebabkan oleh faktor-faktor alami, seperti tambahan aerosol dari letusan gunung berapi, tidak diperhitungkan dalam pengertian perubahan iklim. Dengan demikian fenomena alam yang menimbulkan kondisi iklim ekstrem seperti siklon yang dapat terjadi di dalam suatu tahun (inter annual) dan El-Nino serta La-Nina yang dapat terjadi di dalam sepuluh tahun (inter decadal) tidak dapat digolongkan ke dalam perubahan iklim global. Kegiatan manusia yang dimaksud adalah kegiatan yang telah menyebabkan peningkatan konsentrasi GRK di atmosfer, khususnya dalam bentuk karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous oksida (N2O). 

B. Lamun
Lamun (seagrass) merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang memiliki rhizoma, daun dan akar sejati yang hidup terendam di dalam laut. Lamun umumnya membentuk padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhannya.. Air yang bersirkulasi diperlukan untuk menghantarkan zat-zat hara dan oksigen, serta mengangkut hasil metaboliseme lamun ke luar padang lamun Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem laut dangkal yang paling produktif. Di samping itu ekosistem lamun mempunyai peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut dangkal, yaitu sebagai produsen primer, habitat biota, penjebak sedimen dan penjebak zat hara. Lamun memiliki system perakaran yang nyata, dedaunan, system transportasi internal untuk gas dan nutrient, serta stomata yang berfungsi dalam pertukaran gas. Akar pada tumbuhan lamun tidak berfungsi penting dalam pengambilan air karena daun dapat menyerap nutrient secara langsung dari dalam air laut. Lamun dapat menyerap nutrient dan melakukan fiksasi nitrogen melalui tudung akar. Kemudian untuk menjaga agar tetap mengapung didalam kolom air, tumbuhan ini dilengkapi oleh ruang udara. 

Karena pola hidup lamun sering berupa hamparan maka dikenal juga istilah padang lamun (Seagrass bed) yaitu hamparan vegetasi lamun yang menutup suatu area pesisir/laut dangkal, terbentuk dari satu jenis atau lebih dengan kerapatan padat atau jarang. Lamun umumnya membentuk padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhannya. Lamun hidup di perairan yang dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Air yang bersirkulasi diperlukan untuk menghantarkan zat-zat hara dan oksigen, serta mengangkut hasil metabolisme lamun ke luar daerah padang lamun. 

C. Perubahan Ilkim Terhadap Lamun 
Lamun memiliki perbedaan yang nyata dengan tumbuhan yang hidup terbenam dalam laut lainnya, seperti makro alga atau rumput laut (seaweeds). Tanaman lamun memiliki bunga dan buah yang kemudian berkembang menjadi benih. Pertumbuhan lamun sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor internal seperti kondisi fisiologis dan metabolisme; serta faktor eksternal, seperti zat-zat hara dan tingkat kesuburan perairan. Suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Perubahan suhu terhadap kehidupan lamun, antara lain dapat mempengaruhi metabolisme, penyerapan unsur hara dan kelangsungan hidup lamun. Padang lamun memiliki faktor-faktor pembatas yang mempengaruhi distribusi serta tumbuh dan berkembangnya. , faktor-faktor pembatas ekosistem padang lamun adalah: karbon (CO2 dan HCO3- temperatur, salinitas, pergerakan air, dan nutrien. Kisaran temperatur optimal bagi spesies lamun 28-30 kecepatan arus 0.5 m/detik. 

Beberapa peneliti melaporkan adanya pengaruh nyata perubahan suhu terhadap kehidupan lamun, antara lain dapat mempengaruhi metabolisme, penyerapan unsur hara dan kelangsungan hidup lamun. Walaupun padang lamun secara geografis tersebar luas yang diindikasikan oleh adanya kisaran toleransi yang luas terhadap temperatur tapi pada kenyataannya spesies lamun di daerah tropik mempunyai toleransi yang rendah terhadap perubahan temperature. Pada kisaran suhu 25 - 30°C, fotosintesis bersih akan meningkat dengan meningkatnya suhu. Demikian juga respirasi lamun meningkat dengan meningkatnya suhu, namun dengan kisaran yang lebih luas yaitu 5-35°C. pengaruh suhu terhadap sifat fisiologi organisme perairan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi fotosintesis. Suhu rata-rata untuk pertumbuhan lamun berkiasar antara 24-27 0C. Suhu air dibagian pantai biasanya sedikit lebih tinggi dari pada yang di lepas pantai, suhu air permukaan di perairan nusantara umumnya berada dalam kisaran 28-30 0C sedangkan pada lokasi yang sering terjadi kenaikan air (upwelling) seperti Laut Banda, suhu permukaan bisa menurun sekitar 25 0C. 

Pengaruh suhu juga terlihat pada biomassa Cymodocea nodosa, dimana pola fluktuasi biomassa mengikuti pola fluktuasi suhu. Penelitian yang dilakukan Barber (1985) melaporkan produktivitas lamun yang tinggi pada suhu tinggi, bahkan diantara faktor lingkungan yang diamati hanya suhu yang mempunyai pengaruh nyata terhadap produktivitas tersebut. Pada kisaran suhu 10­35 °C produktivitas lamun meningkat dengan meningkatnya suhu. Pemanasan global dan limbah industri pabrik akan meningkatkan suhu perairan. Lamun mempunyai toleransi yang rendah terhadap perubahan temperatur. Kemampuan proses fotosintesis akan menurun 0/00, & dengan tajam apabila temperatur perairan berada di luar kisaran optimal. Spesies lamun memiliki kemampuan toleransi yang berbeda-beda terhadap salinitas. Salah satu faktor yang menyebabkan kerusakan ekosistem padang lamun adalah meningkatknya salinitas yang diakibatkan oleh berkurangnya suplai air tawar dari sungai.

Osmoregulasi Pada Ikan Anadromous

Osmoregulasi Pada Ikan Anadromous 

A. Osmoregulasi 
Osmoregulasi adalah proses mengatur konsentrasi cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme hidup. Proses osmoregulasi diperlukan karena adanya perbedaan konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan disekitarnya. Jika sebuah sel menerima terlalu banyak air maka ia akan meletus, begitu pula sebaliknya, jika terlalu sedikit air, maka sel akan mengerut dan mati. Osmoregulasi juga berfungsi ganda sebagai sarana untuk membuang zat-zat yang tidak diperlukan oleh sel atau organisme hidup (Wulandari, 2012). 

Osmoregulasi penting dilakukan terutama oleh organisme air, karena: 1. Harus ada keseimbangan antara substansi tubuh dan lingkungan. 2. Membram sel yang permeable merupakan tempat lewatnya beberapa substansi yang bergerak cepat. 3. Adanya perbedaan tekanan osmose antara cairan tubuh dan lingkungan. Tanpa osmoregulasi maka ikan akan mati, ini karena osmoregulasi dapat mengontrol konsentrasi cairan dalam tubuh. Jika ikan tidak bisa mengatur proses osmosis dalam tubuhnya maka ikan akan mati, karena osmoregulasi sangat berfungsi dalam aspek kesehatan ikan (Andi, 2012).

Dalam osmoregulasi terdapat dua istilah yaitu eurihalin dan stenohalin. Eurihalin adalah kemampuan suatu organisme terhadap keadaan perubahan salinitas yang tinggi. Ikan yang tergolong dalam eurihalin adalah salah satunya ikan nila. Stenohalin adalah tingkat adaptasi yang sempit terhadap salinitas yang tinggi. Beberapa organ yang berperan dalam proses osmoregulasi ikan adalah insang, ginjal, kulit, dan usus. Organ-organ ini melakukan fungsi adaptasi di bawah kontrol hormon osmoregulasi, terutama hormon-hormon yang diekresi oleh pituitari, ginjal, dan urofisis. Osmoconformer adalah sebutan bagi hewan yang mampu memelihara keseimbangan antara cairan tubuh dengan keadaan lingkungan sekitar. Kebanyakan invertebrata laut adalah osmoconformer, dimana cairan tubuh mereka isotonik dari keadaan lingkungannya. Meskipun konsentrasi relatif dari garam dan cairan tubuh mereka berubah – ubah dibandingkan air laut, dalam kasus ini hewan juga harus mengatur tingkat ion internal (Andi, 2012). 

B. Proses Osmoregulasi Pada Ikan 
Pada ikan air tawar, air secara terus menerus masuk kedalam tubuh ikan melalui insang. Ini secara pasif berlangsung melalui suatu proses osmosis yaitu, terjadi sebagai akibat dari kadar garam dalam tubuh ikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan lingkungannya. Dalam keadaan normal proses ini berlangsung seimbang. Ikan air tawar harus selalu menjaga dirinya agar garam tidak melarut dan lolos ke dalam air. Garam-garam dari lingkungan akan diserap oleh ikan menggunakan energi metaboliknya. Apabila hal ini terjadi maka ikan yang bersangkutan akan mengalami masalah. Ikan mempertahankan keseimbangannya dengan tidak banyak minum air, kulitnya diliputi mucus, melakukan osmosis lewat insang, produksi urinnya encer, dan memompa garam melalui sel-sel khusus pada insang. Secara umum kulit ikan merupakan lapisan kedap, sehingga garam di dalam tubuhnya tidak mudah bocor kedalam air. Satu-satunya bagian ikan yang berinteraksi dengan air adalah insang (Oktavia, 2013). 

Pada ikan air laut terjadi kehilangan air dari dalam tubuh melalui kulit dan kemudian ikan akan mendapatkan garam-garam dari air laut yang masuk lewat mulutnya. Organ dalam tubuh ikan menyerap ion-ion garam seperti Na+, K+ dan Cl-, serta air masuk ke dalam darah dan selanjutnya disirkulasi. Kemudian insang ikan akan mengeluarkan kembali ion-ion tersebut dari darah ke lingkungan luar (Oktavia, 2013). 

C. Ikan Anandromous 
Anadromous adalah spesies ikan yang memijah di air tawar dan menghabiskan hidupnya di air laut. Spesies yang terkenal dari jenis anadromous adalah ikan salmon dan ikan sidat. Ikan ini biasanya bertelur di kerikil hilir arus deras, kadang-kadang pada ketinggian rendah. Setelah menetas, larva ikan, tetap berada dalam kerikil pemijahan untuk beberapa minggu sebelum muncul untuk hidup dan makan di sungai. Durasi hidup di laut, dimana pertumbuhan terjadi, bervariasi mulai dari 2 tahun untuk salmon pink, dan 5-6 tahun untuk salmon Chinook. 

Ketika salmon berada dekat laut diusia dewasa, mereka bermigrasi ke arah daratan dan masuk ke mulut sungai (Hadiwijaya, 2011). Mereka bergerak ke hulu selama periode beberapa minggu dan bulanan, danselama waktu itumereka tidak makan. Energi mereka dipindahkan dari tubuh untuk pematangan gonad. Adapaun lamprey memiliki siklus hidup yang sama. Mereka juga tidak makan ketika berada dalam masa pematangan gonad dan mau memijah selama di perairandarat. Lamprey dewasa akan memasuki perairan tawar ketika akan memijah untuk bertelur lalu mati, sedangkan larvanya akan bergerak cepat ke laut setelah menetas (Hadiwijaya, 2011). 

D. Osmoregulasi Pada Ikan Anandromous 
1. Ikan Salmon 
Ikan salmon dikelompokkan dalam spesies diadromous yang bersifat anadromous, yakni bermigrasi dari habitat air laut ke air tawar. Ikan salmon termasuk dalam tipe euryhaline, mempunyai toleransi besar pada paparan salinitas. Ikan salmon dewasa hidup di laut dengan kadar salinitas tinggi. Dimana ikan salmon akan meminum banyak air laut untuk mengatur kadar garam tubuh dan mengekskresikan kelebihan garam dari insang. Peranan ginjal dalam ekskresi garam sangatlah besar melalui kelenjar rektal yang nantinya akan mengekskresikan natrium klorida untuk menyeimbangkan konsentrasi garam internal tubuh yang lebih rendah dari konsentrasi garam air laut. Dan ketika ikan salmon akan bereproduksi menuju ke arah hulu sungai, disini akan terjadi perubahan osmoregulasi tubuh dari air laut ke air tawar (hypoosmosis ke hyperosmosis). 

Ketika migrasi ke air tawar untuk memijah, ikan salmon itu akan berhenti atau sedikit minum dan insangnya akan mulai mengambil garam dari lingkungan yang konsentrasinya tidak pekat. Ikan salmon ini akan menyeimbangkan perolehan air dengan banyak mengeluarkan urin (Navalda, 2011). Telur ikan salmon akan menetas di sungai, hal ini kemungkinan disebabkan karena hubungannya dengan faktor suhu yang sesuai, faktor makanan yang dibutuhkan untuk anak-anaknya, dan faktor hormonal. Setelah dewasa, barulah ikan salmon akan kembali ke laut dan akan mengalami perubahan fisiologis, yakni perubahan osmoregulasi dari air tawar ke air laut (hyperosmosis ke hypoosmosis). Ketika salmon sudah terbiasa dengan air asin, kulitnya akan berubah menjadi seperti sutra yang berkilauan. Begitu seterusnya berjalanan hidup ikan salmon (Navalda, 2011). 

2.Ikan Sidat 
Ikan sidat dikelompokkan dalam spesies diadromous yang bersifat katadromous, yakni bermigrasi dari habitat air tawar ke air laut. Pada saat bereproduksi ikan sidat akan menuju ke laut, disana telur akan menetas dan berkembang. Tetapi ketika beranjak dewasa ikan-ikan sidat akan kembali ke hulu sungai. Stadia glass eel (larva) ikan sidat lebih menyukai air laut dan bersifat osmoregulator kuat. Sedangkan elver (benih sidat) yang sudah mengalami pigmentasi penuh lebih menyukai perairan tawar. Ikan sidat ketika berada di laut akan meminum banyak sekali air laut, lalu memompa kelebihan garam dengan insang dan mengekskresikan urin dalam jumlah yang relatif sedikit. Hal ini dilakukan untuk mengkompensasikan kehilangan air yang terjadi secara osmosis. Sedangkan ketika berada di air tawar ikan sidat akan sedikit minum dan banyak mengeluarkan urin yang hipoosmotik dengan cairan tubuhnya untuk menyeimbangkan perolehan air (Navalda, 2011).

Adaptasi Ikan Terhadap Salinitas

Adaptasi Ikan Terhadap Salinitas

Di alam terdapat dua macam perairan yang berbeda kadar garamnya, yaitu perairan laut dan perairan tawar. Air laut mempunyai kadar garam yang lebih tinggi daripada air tawar. Ikan yang hidup di air laut dan air tawar masing - masing memiliki cara adaptasi yang khusus. Ikan air laut tidak dapat bertahan hidup, jika dipindahkan ke air tawar, demikian pula sebaliknya. Ikan air laut mempunyai cairan tubuh berkadar garam lebih rendah dibandingkan kadar garam di lingkungannya. Ikan tersebut beradaptasi dengan cara selalu minum dan mengeluarkan urine sangat sedikit. 

Hal itu bertujuan untuk menjaga jumlah cairan yang berada di sel - sel tubuhnya. Garam yang masuk bersama air akan dikeluarkan secara aktif melalui insang. Tekanan osmosis sel - sel tubuh ikan air tawar lebih tinggi dibandingkan tekanan osmosis air di lingkungannya, karena kadar garam sel tubuh ikan air tawar lebih tinggi daripada kadar garam air lingkungannya. Menurut hukum osmosis, larutan akan berpindah dari yang bertekanan osmosis rendah ke larutan yang bertekanan osmosis tinggi. Dengan demikian banyak air yang masuk ke tubuh ikan melalui sel - sel tubuh ikan. Untuk menjaga agar cairan tubuhnya tetap seimbang, ikan tersebut beradaptasi dengan cara sedikit minum dan mengeluarkan banyak urine. 

Mengapa ikan mas atau katak tidak mampu hidup di air laut, sebaliknya paus tidak mampu berada di kolam air tawar ? Tekanan osmosis di dalam sel - sel tubuh ikan air tawar jauh lebih rendah dibanding tekanan osmosis lingkungan air laut. Akibatnya, apabila ikan air tawar dimasukkan ke air laut, bentuk adaptasi awalnya adalah minum air sebanyak - banyaknya agar cairan di dalam sel - sel tubuh yang keluar secara osmosis ke lingkungan dapat teratasi. Namun hal ini akan sulit terus dilakukan karena apabila tekanan osmosis cairan di dalam sel - sel tubuh terlalu rendah sel - sel tubuh akan mengerut sehingga ikan air tawar tersebut mati.

Kematian Karang Karena Pemanasan Global

Kematian Karang Akibat Pemanasan Global

Pada dasarnya pemanasan global dapat mengakibatkan terjadinya perubahan suhu bumi. Hal ini juga berimbas kepada perubahan suhu air laut yang semakin meningkat sehingga kondisi lingkungan laut dapat berubah secara kompleks yang berdampak pada kehidupan organisme laut, termasuk terumbu karang Terumbu karang merupakan salah satu biota laut yang mengalami kerusakan akibat pemanasan global ini. Naiknya suhu dan permukaan air laut pada dasarnya merupakan dua kendala yang menjadi penyebab kerusakan dan kepunahan terumbu karang. Kedua kendala tersebut juga memberikan dampak serius pada ekologi samudera dan yang paling penting ekosistem terumbu karang yang merupakan tempat tinggal berbagai macam mahluk hidup samudera. 

Terganggunya kehidupan terumbu karang tidak hanya disebabkan oleh pemanasan global, juga oleh intensitas cahaya matahari, pencahayaan yang terlalu lama, peningkatan atau penurunan suplai nutrien, buangan limbah panas, pengadukan lumpur oleh aktivitas pengeboran dan buangan minyak, curah hujan, radiasi ultraviolet, dan pencemaran herbisida. Faktor-faktor kerusakan pada terumbuh karang akibat pemanasan global adalah : 
a. Peningkatan suhu air laut
b. Naiknya permukaan air laut
c. Perubahan arus
d. Peningkatan oksigen beracun
e. Penurunan kadar oksigen
f. Peningkatan kadar salinitas

Dampak dari pemanasan global yang dapat menyebabkan kerusakan dan kematian pada terumbu karang adalah sebgai berikut: 
a. Kekurangan suplai nutrient 
Alga yang merupakan sumber makanan terumbu karang akan mati karena tidak mampu beradaptasi dengan peningkatan suhu air laut. Hal ini berdampak pada menipisnya ketersediaan makanan terumbu karang. Kekurangan makanan tersebut berdampak pada keberadaan terumbu karang, yang berubah warna menjadi putih (bleaching) dan pada kondisi yang ekstrem dapat mengalami kematian. Dampak yang lebih lanjut adalah hilangnya ikan karang, baik sebagai habitat maupun sebagai sumber makanan atau terjadi perubahan komposisi ikan di perairan laut

b. Peningkatan pertumbuhan karang
Kebanyakan terumbu karang mampu bertahan dengan naiknya permukaan laut yang telah diperkirakan kurang lebih 50 cm hingga tahun 2010. Dataran terumbu karang yang terbuka pada saat surut, yang membatasi pertumbuhannya ke atas, akan dapat mengambil keuntungan dari kenaikan tersebut. Tetapi karang yang telah melemah karena meningkatnya suhu atau faktor-faktor lain mungkin tidak dapat tumbuh dan membangun kerangka kapur secara normal. Apabila hal ini terjadi, pulau-pulau yang rendah tidak mendapat perlindungan dari terumbu karang di sekitarnya dari gelombang dan badai. 

c. Pemutihan karang 
Peningkatan suhu air laut diduga sebagai penyebab terjadinya pemutihan pada terumbu karang. Pemutihan karang (Bleaching) adalah suatu penurunan jumlah simbiotik Dinoflagellata (Zooxanthella) atau penurunan pigmen klorofil yang terdapat pada jaringan endodermis karang . Pemutihan karang, dapat diartikan sebagai hilangnya atau dikeluarkannya Zooxanthella dari tubuh karang ketika karang mengalami perubahan ekstrim di lingkungannya secara mendadak. Perubahan kondisi lingkungan yang berubah secara drastis ini dapat menyebabkan karang menjadi stres dan akhirnya menunjukkan gejala pemutihan. 

Dengan kenaikan temperatur 1-2°C di atas suhu perairan maksimum musim panas dapat mengakibatkan pemutihan karang yang dapat menyebabkan 90-95 % kematian karang. Bila kenaikan suhu berlangsung 5-10 minggu dapat menyebabkan Zooxanthella lepas dari jaringan karang dan dapat menyebabkan pemutihan pada banyak jenis karang yang dominan. Jika tekanan tersebut lebih besar lagi atau berlangsung lebih lama lagi maka karang dapat mengalami kematian. 

Pada saat stress, pigmen warna (Alga bersel satu atau zooxanthellae) yang melekat pada tubuhnya akan pergi ataupun mati sehingga menyebabkan terjadinya bleaching (pemutihan). Sebanyak 70-80 persen karang menggantungkan makanan pada alga tersebut, jadi mereka akan mengalami kelaparan ataupun kematian. Bila penyebab stress tidak segera ditangani, maka akan menimbulkan kematian secara besar-besaran terhadap terumbu karang tersebut. 

 Adapun dampak berkelanjutan dari pemutihan karang yaitu antara lain:
a. Jumlah atau kelimpahan karang 
Pemutihan karang dapat menyebabkan 90-95% kematian karang. Bila tekanan lingkungan sangat besar dan berlangsung cukup lama, karang akan mengalami kematian. Selanjutnya, dapat mempengaruhi jumlah / populasi karang. 

b. Menurunnya kapasitas/reproduksi karang 
Jumlah / kelimpahan karang berkurang karena pemutihan mematikan karang dewasa sebelum matang bereproduksi. Sebagai contoh, karang-karang Acroporidae yang memerlukan waktu 4-5 tahun untuk matang bila peristiwa pemutihan yang terjadi rata-rata setiap 3-4 tahun dan frekuensi ini terus meningkat, maka karang akan gagal untuk berreproduksi. Juga bila dampak pemutihan karang yang terjadi sangat parah maka alga yang berkembang secara meluas dapat mencegah rekolonisasi karang-karang baru. 

c. Kemampuan tumbuh
Kemampuan tumbuh karang menurun karena terjadi perubahan suhu ekstrim di lingkungan secara mendadak, sehingga karang menjadi stres. Semula karang terbiasa pada suhu konstan, bila terjadi perubahan suhu, karang terancam rusak sehingga kekurangan kemampuan untuk tumbuh. 

d. Mencegah rekolonisasi
Rekolonisasi adalah pembentukan koloni kembali yang dilakukan oleh mahluk hidup. Pemutihan karang menyebabkan karang gagal bereproduksi. Bila pemutihan karang yang terjadi sangat parah dapat menyebabkan gagal rekolonisasi karang baru. Artinya karang tidak dapat membentuk koloni kembali.

Salt Marsh (Rawa Asin)




Salt marsh/rawa asin merupakan lahan basah pesisir yang membanjiri dan dikeringkan dengan air garam yang dibawa oleh gelombang. Padang ini dikatakan berawa karena tanah dapat terdiri dari lumpur yang dalam dan gambut. Gambut terbuat dari pengurai bahan tanaman yang sering beberapa meter tebal. Gambut basah kuyup, akar-diisi, dan sangat kenyal. Karena rawa-rawa garam sering terendam oleh pasang surut dan mengandung banyak bahan tanaman membusuk, kadar oksigen dalam gambut dapat menjadi sangat rendah-suatu kondisi yang disebut hipoksia . Hipoksia disebabkan oleh pertumbuhan bakteri yang menghasilkan bau busuk-telur belerang yang sering dikaitkan dengan rawa-rawa dan lumpur.

Rawa-rawa garam terjadi di seluruh dunia, terutama di tengah untuk lintang tinggi. Berkembang di sepanjang garis pantai yang dilindungi, mereka adalah habitat umum di muara . Di Amerika Serikat, rawa-rawa garam dapat ditemukan di setiap pantai. Sekitar setengah dari rawa-rawa garam  yang terletak di sepanjang Gulf Coast.

Di daerah tropis dan sub-tropis mereka digantikan oleh bakau , daerah yang berbeda dari rawa-rawa garam dalam bahwa alih-alih tanaman herba , mereka didominasi oleh tanaman yang dapat bertoleran dengan kadar garam yang tinggi.

Rawa-rawa garam juga melindungi garis pantai dari erosi dengan buffering gelombang dan perangkap sedimen. Mereka mengurangi banjir dengan memperlambat dan menyerap air hujan dan melindungi kualitas air dengan menyaring limpasan, dan dengan metabolisme kelebihan gizi.

Rawa-rawa garam  terdiri dari berbagai tanaman  seperti kumbuh, teki tahunan, dan rumput. Dominan rawa asin di Florida meliputi spesies: rush jarum hitam (Juncus roemerianus), rush keabu-abuan yang terdapat di sepanjang daerah rawa, saltmeadow atau biasa disebut kabel rumput (Spartina patens), yang tumbuh di daerah-daerah yang secara periodik tergenang air, rumput kabel halus (Spartina alterniflora), ditemukan di yang terendah daerah yang paling sering kebanjiran, dan Sawgrass (Cladium jamaicense), yang sebenarnya adalah sebuah tanaman air tawar yang kadang-kadang tumbuh di sepanjang tepi atas rawa-rawa garam.




Semoga bermanfaat ^_^


 
Sumber : oceanservice.noaa.gov

Kebiasaan Makan Ikan Karang


Faktor yang paling mempengaruhi diversifikasi dan modifikasi ikan karang dalam perkembangannya adalah kebiasaan makannya. Atas dasar ini ikan dapat dibagi secara luas menjadi pemakan plankton, pemakan nekton, dan pemakan bentos. Kebanyakan kebiasaan makan ikan karang berubah secara radikal dalam masa pertumbuhannya mulai dari juvenil yang masih muda hingga menjadi ikan dewasa  

a. Pemakan Plankton  
     Ikan pemakan plankton pada umumnya memiliki cakar-cakar insang yang baik tumbuhnya pada satu atau lebih busur insangnya di sisi lekuk sebelah dalamnya, berhadapan dengan serabut insang. Sementara ikan melewatkan air melalui mulutnya dan keluar di atas insang untuk bernafas, tersaring organisme plankton dan tertahan oleh cakar-cakar insang sampai dibawa ke dekat kerongkongan dan ditela. 
     Adaptasi morfologi yang dilakukan oleh ikan planktonovora adalah manifestasi sebagian besar di dalam perubahan bentuk dari bagian mulutnya, dimana rahang berbentuk seperti tabung pada waktu membuka mulut. Bentuk gigi mereka menjadi kecil, tulang tengkorak kurus, dan matanya membesar.
     Selanjutnya sorokin (1993) mengatakan bahwa kelompok ikan ini terbagi atas kelompok primer dan sekunder. Kelompok primer terdiri atas beberapa spesies dari family ikan pelagis yang keluar pada malam hari berpencar mencari makan dan pada siang hari bersama dengan gerombolan bersembunyi di tubir. Kelompok primer terdiri atas beberapa dari family ikan karang berbeda yang termasuk dalam ordo Peciformes.  

b. Herbivora 
     Ikan herbivora adalah kelompok besar kedua (sekitar 15 persen dari spesies), dan yang paling penting dari kelompok ini adalah family Scaridae dan Acanthuridae. Kebanyakan ikan herbivora adalah ikan-ikan yang aktif pada siang hari (diurnal), berwarna cemerlang dengan mulut yang kecil, cocok untuk mengikis tumbuhan alga dari alga koralin.
      Ikan herbivor di terumbu karang sebagian besar bertahan karena adanya alga serta diatom yang ada di permukaan karang. Sejauh ini Scaridae dan Acanthuridae adalah herbivor yang paling penting di daerah terumbu karang. Meskipun demikian Siganidae, beberapa jenis Pomacentridae dan Blennidae termasuk pula dalam golongan penting pada ikan kategori ini.
    Sorokin (1993) menbagi jenis kelompok ikan pemakan tumbuhan menjadi : pemakan tunas (browser), perumput (grazer) dan penghisap (sucker). Pemakan tunas makrofita dan lamun, perumput (grazer)  pemakan perifitin lemba ran dan alga koralin sedangkan penghisap detritus dan mikrofitibenthos lembaran dari permukaan sendimen dasar yang halus.

c. Karnivora
       Tipe pemangsaan yang paling banyak ditemui di terumbu adalah karnivora, mungkin sekitar 50-70% dari spesis ikan. Ikan-ikan karnivora tidak mengkhususkan makanannya pada suatu sumber makanan tertentu, tetapi sebaliknya merupakan opurtunistik, mengambil apa saja yang berguna bagi ikan karnivor itu
       Menurut Hobson (1975) dalam McConnaughery (1983), ada tiga metode yang digunakan oleh ikan karnivora untuk mendapatkan mangsanya yaitu : mencaplok, mengintai, dan menyamarkan diri (kamuflase). Mencaplok dilakukan oleh ikan dari family Carangidae mangsanya dari kawanan, dilakukan terutama pagi dan sore hari. Mengintai dilakukan dengan sangat pelan-pelan kemudian sampai jarak yang memungkinkan ikan jenis ini kemudian melompati dan menerjang dengan cepat, metode seperti ini dilakukan oleh ikan dari family Aulostomidae, Belonidae, dan Aulostomidae. Dan yang terakhir dilakukan dengan menyamarkan dirinya dan menunggui mangsanya datang cukup dekat untuk dijangkau.


Semoga bermanfaat ^_^
 

LIke Box

"border="1"/>

Page Rank

Stats

Flag Counter

free counters

Histats.com